Welcome to our website

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum. ed ut perspiciatis unde omnis iste.

Selasa, 19 Agustus 2025

HUT RI Ke 80 " Potret perayaan kemerdekaan dan pengibaran bendera Merah Putih di seluruh negeri "

Kegiatan yang berlangsung di halaman terpadu Sunan Kalijaga Pondok Mangunan berlangsung khidmat dan lancar. Keikutsertaan siswa-siswi dari lembaga pendidikan sebagai bentuk menanamkan cinta tanah air kepada generasi penerus, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan mudah tetapi penuh perjuangan hebat dari para pahlawan terdahulu. Untuk diketahui, turut hadir dalam kesempatan ini Perangkat Desa Tulung, BPD, LPMD, PKK, Karang Taruna “Taruna Bakti”, Babinkamtibmas, Babinsa, pengurus Yayasan Al Bukhori Mangunan, dan lembaga pendidikan di Desa Tulung.

Senin, 07 April 2025

Pak Mbok lebaran tahun 2025

Alon - Alon Ponorogo 2025

Sejarah Tradisi Perayaan Lebaran Ketupat 2025

Sejarah Tradisi Perayaan Lebaran Ketupat Lebaran Ketupat merupakan salah satu tradisi Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Tradisi ini dirayakan oleh masyarakat Muslim, terutama di Jawa dan Lombok, sekitar seminggu setelah Lebaran. Perayaan ini identik dengan sajian ketupat. sejarah tradisi Lebaran Ketupat erat hubungannya dengan salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Masyarakat Jawa percaya bahwa Sunan Kalijaga adalah sosok yang pertama kali memperkenalkan ketupat.

Sabtu, 01 Maret 2025

Pasukan Siap Di Kirim Ke Palistina Dengan Misi Menciptakan Perdamaian

Izinkan ayah Izinkan ibu Izinkan kami pergi berjuang Dibawah kibaran bendera NU Majulah ayo maju serba serbu Tidak kembali pulang Sebelum kita yang menang Walau darah menetes di medan perang Demi agama ku rela berkorban Maju ayo maju ayo terus maju Singkirkanlah dia dia dia Kikislah habis mereka Musuh agama dan ulama Wahai barisan cnsor serbaguna Di mana engkau berada Teruskanlah perjuangan Demi agama ku rela berkorban Demi agama ku rela berkorban Izinkan ayah Izinkan ibu Izinkan kami pergi berjuang Dibawah kibaran bendera NU Majulah ayo maju serba serbu Tidak kembali pulang Sebelum kita yang menang Walau darah menetes di medan perang Demi agama ku rela berkorban Maju ayo maju ayo terus maju Singkirkanlah dia dia dia Kikislah habis mereka Musuh agama dan ulama Wahai barisan cnsor serbaguna Di mana engkau berada Teruskanlah perjuangan Demi agama ku rela berkorban Demi agama ku rela berkorban

Pelaksanaan Perlombaan Di SMKN 1 Njenangan

Lembaga Pencak Silat NU ( Pagar Nusa )

Sejarah Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Pada lambang Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tertulis Laa ghaaliba Illa billah yang melingkar di bola bumi; terletak di bawah trisula. Lafaz itu diusulkan KH Suharbillah, seorang pendekar silat dan salah seorang pendiri Pagar Nusa. Mulanya adalah kalimat tersebut adalah la ghaliba illallah, kemudian KH Sansuri Badhawi mengusulkan untuk menggantinya dengan la ghaliba illa billah. Kalimat tersebut yang digunakan pada lamabang Pagar Nusa hingga sekarang. Artinya semakna dengan la haula wa la quwwata illa billah. Menurut Kiai Suharbillah lafadz tersebut, Pagar Nusa ingin kejayaan Islam di Cordova, Spanyol, tumbuh di Indonesia. juga sangat cocok semboyan sebuah perhimpunan bela diri supaya para anggotanya tidak takabur. Sebab dengan lafadz tersebut, pendekar berpegang teguh bahwa tidak ada yang mengalahkan seseorang, kecuali hanya karena Allah. Dengan slogan itu, pendekar tidak oper dosis bertujuan untuk kemenangan, di atas langit ada langit Ketua Umum Pagar Nusa 2012-2017 KH Aizzudin Abdurrahman menafsirkan lafadz tersebut sebagai tingkat kepasrahan tertinggi seseorang. Meskipun seseorang sakti, tapi tidak boleh merasa sakti. Termasuk kepada musuh kita. Meskipun dia terlihat sakti, tapi ketika tidak dilindungi Allah, dia tidak akan berarti apa-apa. Menurut Gus Aiz, ada slogan lain yang sering diungkapkan pendiri dan mahaguru beladiri Pagar Nusa yaitu KH Maksum Jauhari, seorang pendekar pilih tanding Pagar Nusa, yaitu “Pantang menantang walau kepada lawan, pantang mundur kalau ditantang. Sebetulnya, slogan tersebut tak jauh dengan laa ghaaliba illa billah. Sejarah Berdiri dan Para Tokohnya Menurut Ensiklopedia NU, Pagar Nusa bertugas menggali, mengembangkan, dan melestarikan seni bela diri pencak silat Indonesia. Nama resminya adalah lkatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa kemudian sekarang membuang kata ikatan, menjadi Pencak Silat NU. Sedangkan Pagar Nusa sendiri berarti pagarnya NU dan bangsa. Pagar Nusa dibentuk pada 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. NU mengesahkan pendirian dan kepengurusannya melalui Surat Keputusan tertanggal 9 Dzulhijjah 1406/16 Juli 1986. Lahirnya Pagar Nusa berawal dari perhatian dan keprihatinan para kiai NU terhadap surutnya ilmu bela diri pencak silat di pesantren. Padahal, pada awalnya pencak silat merupakan kebanggaan yang menyatu dengan kehidupan dan kegiatan pesantren. Surutnya pencak silat antara lain ditandai dengan hilangnya peran pondok pesantren sebagai padepokan pencak silat. Padahal, sebelumnya pondok pesantren merupakan pusat kegiatan ilmu bela diri tersebut. Kiai atau ulama pengasuh pondok pesantren selalu merangkap sebagai ahli pencak silat, khususnya aspek tenaga dalam atau hikmah yang dipadu dengan bela diri. Pada saat itu seorang kiai sekaligus juga pendekar pencak silat. Du sisi Iain tumbuh berbagai perguruan pencak silat dengan segala keanekaragamannya berdasarkan segi agama, aqidah, maupun kepercayaannya. Perguruan-perguruan itu kadang bersifat tertutup dan saling mengklaim sebagai yang terbaik serta terkuat. Para ulama-pendekar merasa gelisah melihat kenyataan tersebut. KH Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya, menceritakan masalah itu kepada KH Mustofa Bisri di Rembang. Mereka lalu menemui KH Agus Maksum Jauhari (Lirbow) atau Gus Maksum, yang memang dikenal sebagai tokoh ilmu bela diri. Pada 27 September 1985 mereka berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Tujuannya untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan NU yang khusus mengembangkan seni bela diri pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, Cirebon, dan Kalimantan. Kemudian terbitlah Surat Keputusan Resmi Pembentukan Tim Persiapan Pendirian Perguruan Pencak Silat Milik NU yang disahkan pada 27 Rabi’ul Awwal 1406/ 10 Desember 1985 dan berlaku hingga 15 Januari 1986. Musyawarah berikutnya diadakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 3 Januari 1986. Musyawarah ini menyepakati susunan Pengurus Harian Jawa Timur yang merupakan embrio Pengurus Pusat. Gus Maksum dipilih sebagai ketua umumnya. Nama organisasi yang disepakati dalam musyawarah tersebut adalah lkatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama yang disingkat IPS-NU yang kemudian sekarang menjadi PSNU. Ketua PWNU Jawa Timur KH Anas Thohir kemudian mengusulkan nama Pagar Nusa. Nama “Pagar Nusa" berasal dan KH Mujib Ridlwan dari Surabaya, putra dari KH Ridlwan Abdullah, pencipta lambang NU. KH Suharbillah mengusulkan lambang untuk Pagar Nusa, yaitu segi lima yang berwarna dasar hijau dengan bola dunia di dalamnya. Di depannya terdapat pita bertuliskan “Laa ghaliba illa billah” yang artinya ”tiada yang menang kecuali mendapat pertolongan dari Allah”. Lambang ini dilengkapi dengan bintang sembilan dan trisula sebagai simbol pencak silat. Sedangkan kalimat ”Laa ghaliba illa billah” merupakan usul dari KH Sansuri Badawi untuk mengganti kalimat sebelumnya, yaitu ”Laa ghaliba ilallah”. Untuk membentuk susunan pengurus tingkat nasional, PBNU di Jakarta membuat surat pengantar kesediaan ditunjuk menjadi pengurus. Surat ini ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH Achmad Siddiq. Pagar Nusa mengadakan Munas I di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kraksaan, Probolinggo. Surat kesediaan ditempati sebagai penyelenggara munas ditandatangani oleh KH Saifurrizal. la juga yang menentukan tanggal pelaksanaan acara tersebut, yaitu 20-23 September 1991. Namun, ternyata itu adalah tanggal yang tepat dengan 100 hari wafatnya KH Saifurrizal sehingga pada pembukaan acara pun terlebih dahulu diadakan tahlilan. Sesuai hasil Muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya (1994), Lembaga Pencak Silat NU Pagar Nusa berubah status dari Lembaga menjadi badan otonom. Kemudian pada Muktamar NU di Lirboyo (1999), status Badan Otonom kembali berubah menjadi lembaga. Munas II Pagar Nusa diadakan di Padepokan IPSI Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada 22 Januari 2001. Acara ini diikuti perwakilan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Riau, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Bahkan, Jawa Timur yang merupakan pusat pengembangan PSNU Pagar Nusa mengikutsertakan perwakilan dari cabang-cabang yang ada di 35 kabupaten/kota se-Jawa Timur dan pondok pesantren. Acara yang dibuka oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid ini membahas agenda-agenda: (1) Organisasi: Membahas masalah Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) IPS-NU Pagar Nusa; (2) Ke-Pasti-an: Membahas masalah Pasti (Pasukan lnti) dan perangkat yang lain yang meliputi seragam dan atributnya, keanggotaan, dan kepelatihan; (3) Teknik dan Jurus: Membahas, menggali, dan menyempurnakan jurus-jurus yang sudah dimiliki oleh IPS-NU Pagar Nusa yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk hard copy (buku) dan soft copy (kaset dan VCD). Saat ini Pagar Nusa memakai seragam khusus, antara Ialn: (1) Seragam Atlet: baju dan celana berwarna hitam dengan bagde IPSI dl dada sebelah kanan dan bagde Pagar Nusa d£ dada sebelah kiri dilengkapi sabuk kebesaran warna hijau yang diikatkan dengan simpul hidup di sebelah kanan; (2) Seragam Pasukan Inti (Pasti) Putra: kemeja lengan panjang berwarna hitam, celana warna hitam, sepatu hitam PDH dengan memakai atribut yang telah ditentukan; (3) Seragam Pasukan lnti (Pasti) Putri: pasukan yang dibentuk dan bertugas pertama kali pada acara Istighatsah Nasional PBNU di Lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya pada 15 Mei 2003 ini memakai seragam berupa blazer (jas) berwarna hitam, jilbab hitam, celana hitam, dan memakai sepatu PDH berwarna hitam dengan atribut yang telah ditetapkan; (4) Seragam Pengurus: baju dan celana warna hitam, jas warna putih, berkopiah hitam, dan bersepatu PDH warna hitam; (5) Seragam Tim Khos: seperti seragam pengurus ditambah dengan simbol khusus; (6) Seragam Kebesaran: jubah warna hitam yang dipakai hanya pada ajang tingkat nasional. Beberapa tokoh yang pernah menjadi Ketua Umum Pagar Nusa adalah KH Agus Maksum Jauhari, KH Suharbillah, KH Fuad Anwar, KH Aizuddin Abdurrahman, dan saat ini H M. Nabil Haroen. (Abdullah Alawi)

Senin, 02 Desember 2024

Persiapan

Sabtu, 30 November 2024

Berangkat

Senin, 18 November 2024

“ EKS NEGERI CINA “

“ INFO-INFO “

“ KONCONE DIPIKIR NOO “ Santaplah makanan dengan hati gembira. Tawa dan canda menghiasi suasana. Kami berkumpul untuk merayakan saudara. Makan bersama penuh tawa, tak terlupakan. Setiap suap makanan menjadi bahagia. Kehangatan keluarga terasa sangat nyata. Sambil berbicara cerita-cerita hari ini. Maka kita merayakan kebersamaan yang tak pernah pudar. Tertawa bersama dalam kenangan indah. Setiap suguhan makanan menjadi diingat selalu. Kebersamaan yang tak terlupakan. Makan bersama penuh canda tawa

“ BERSAMA BUS RESTU PANDA “ Sudah saatnya kembali ke asrinya desa Yang hijaunya tenteramkan jiwa yang senak Sudah saatnya kembali ke teduhnya rumah Yang selalu hadirkan rasa nyaman dari penatnya kebisingan Sudah saatnya kembali ke pangkuan ibu Yang kasih sayangnya takkan pudar oleh waktu Sudah saatnya kembali ke gendongan ayah Yang tanpa henti peluh tercurah walau tubuh sudah payah Dan bila saatnya kembali ke peraduan-Nya

Pantai Gemah Jadi Saksi Hari ini kami ke sini Luap rasa sayang Luap rasa kangen Luap rasa tak ingin berpisah Selamanya bersama denganmu Hari ini kami ke sini Hujan guyur sepanjang jalan Tak surut niat Adanya hanya rasa bahagia Indah suasana Hari ini kami ke sini Pantai Gemah jadi saksi Ada ikat sahabat Sangat akrab dan erat Dalam hati nan suci Hari ini kami ke sini Lepas sedih murung Kesal amarah buruk sangka Lepas segala yang tak Mengenakkan hati Hari ini kami ke sini Saling ucap janji Walau dalam hati Sambung silaturrahmi Selamanya takkan usai Hari ini kami ke sini Lihat indah alamMu Hamparan laut lepas Pantai Gemah salah satu Bukti dan tanda KuasaMu

Jumat, 11 Oktober 2024

Setiap tanggal 14 Agustus Negra Indonesia memperingati Hari Pramuka Indonesia. Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) memiliki sejarah yang turut berkontribusi dalam perjalanan bangsa. Lahirnya Pramuka di Indonesia turut menyulut berdirinya pergerakan nasional. Peristiwa apa yang menyebabkan tanggal 14 Agustus dijadikan sebagai Hari Pramuka Indonesia? Dikutip dari laman resmi Pramuka, sebelum menggema di Indonesia, pramuka telah berkembang terlebih dahulu di Inggris lewat pembinaan remaja yang dilakukan oleh Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Powell diketahui memiliki banyak pengalaman yang berpengaruh pada kegiatan di dalam Pramuka seperti pengalaman mengalahkan kerajaan Zulu di Afrika, keterampilan berlayar, berenang, berkemah dan masih banyak lainnya. Pengalaman itu ditulis Powell dalam sebuah buku berjudul 'Aids to Scouting'. Buku itu yang menjadi panduan bagi tentara muda Inggris untuk melakukan tugasnya. Kemudian pimpinan Boys Brigade di Inggris meminta Powell untuk melatih anggotanya berdasarkan pengalamannya. Pada 1908, Powell kembali menulis buku yang berisi pengalamannya tentang latihan kepramukaan. Buku ini berjudul 'Scouting for Boy' dan kemudian menyebar dengan cepat di Inggris dan negara lain, termasuk Indonesia. Pelopor gerakan kepanduan di Indonesia diawali dengan berdirinya Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) yang kemudian berubah menjadi Nederlands Indische Padvinders. Pada 1916, S.P Mangkunegara VII membuat organisasi kepanduan sendiri di tanah air, tanpa campur tangan dari Belanda. Organisasi itu diberi nama Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) dan merupakan organisasi kepanduan yang pertama di tanah nusantara. Lahirnya JPO menjadi penyemangat berdirinya organisasi kepanduan lain di Indonesia pada saat itu. Pada masa penjajahan Jepang, organisasi kepanduan dan partai dilarang untuk beraktivitas. Barulah pada September 1945 sejumlah tokoh dari gerakan kepanduan Indonesia berkumpul untuk melakukan pertemuan di Yogyakarta. Dari hasil kongres pada 27-29 September 1945 terbentuk Pandu Rakyat Indonesia. Kehadiran Gerakan Pramuka di Indonesia mendapat tempat penting di Indonesia bertolak pada ketetapan MPRS No. II/ MPRS/ 1960. Presiden Sukarno memberikan amanat kepada pimpinan pandu di Istana merdeka pada 9 Maret 1961. Amanat itu untuk lebih mengefektifkan kepanduan sebagai komponen penting dalam pembangunan bangsa. Lambang Pramuka berupa Tunas Kelapa yang kita ketahui saat ini disahkan dalam Keppres Nomor 238 Tahun 1961. Kemudian pada 14 Agustus 1961, secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada masyarakat setelah Presiden Sukarno menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keppres Nomor 448 Tahun 1961.

“Motor Vespaku” Motor Vespa, lambang klasik elegan Dengan roda kecil dan bodi bulat Seperti kupu-kupu, terbang dengan indah Menghadirkan romantika zaman dulu Motor Vespaku… Mesin berderap, memekakkan telinga Menjadi irama dalam kehidupan Kala melaju, dunia tersenyum ceria Semua terlihat berwarna Gaya yang anggun, seperti sang ratu Menjadi sorotan di setiap jalanan Membuat banyak orang berdecak kagum Kagum akan keindahannya yang abadi Mungkin dianggap ketinggalan zaman Namun, tidak bagi para pencinta klasik Itulah harta yang penuh memori Selalu dirawat dengan baik Kendati seiring waktu berlalu Vespa tetap menjadi primadona Tak tergantikan dengan motor modern Tetap terjaga kemolekan dan keunikan Memang hanya segelintir orang yang memilih Namun, Vespa selalu menghadirkan pesona Bagi mereka yang memakainya dengan bangga Dan menghiasi jalan dengan keindahannya Vespa… tak hanya sebagai kendaraan Namun juga sebagai gaya hidup Mengajarkan kita untuk menghargai masa lalu Motor Vespa, lambang keindahan sejati Tetap menghiasi jalanan kita Membawa keindahan dalam setiap langkah Menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup

Sabtu, 07 November 2020

" 8 November 2020 " Seragam putih menebar senyum kebahagiaan Kepintaran, kecerdasasan, menjadi satu kesatuan Cekatan juga penuh kesabaran Dipercaya banyak orang dengan penuh pengharapan Penolong nyawa banyak orang Seperti aku yang saat ini butuh pertolongan Kelak, aku akan seperti dia, yang dihormati semua orang Aku akan jadi dokter untuk mereka yang membutuhkan Amiiin,,,,,,,,

8 November 2020 Tiga serangkai

15 Oktober 2020

5 November 2020 Saatnya bersantai

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger